Nganjuk – Proses penyelidikan kecelakaan antara Kereta Api Logawa dengan truk boks J&T serta sepeda motor di perlintasan sebidang Desa Bagor Kulon, Kecamatan Bagor, masih terus berlangsung. Hingga kini, Polres Nganjuk belum menetapkan tersangka dalam peristiwa yang menewaskan sopir truk boks tersebut.
Di tengah proses penyelidikan, sejumlah rekan almarhum Tabah Nur Arriski mendatangi lokasi kecelakaan pada Jumat (10/7). Mereka menggelar doa bersama dan menaburkan bunga di sekitar perlintasan kereta api sebagai bentuk penghormatan sekaligus ungkapan duka atas kepergian rekannya.
Suasana haru menyelimuti kegiatan tersebut. Anton, salah seorang sahabat dekat Tabah, bahkan sempat pingsan saat berada di lokasi karena tidak mampu menahan kesedihan.
"Saya tidak menyangka Tabah meninggal dunia secepat ini," ucap Anton sebelum akhirnya mendapat pertolongan dari rekan-rekannya.
Di lokasi yang sama, emosi juga ditunjukkan oleh Tomi, rekan korban lainnya. Ia mendatangi pos penjagaan perlintasan kereta api dan meluapkan kekecewaannya atas kecelakaan yang merenggut nyawa sahabatnya.
"Gara-gara kamu teman saya meninggal dunia," teriak Tomi di depan pos perlintasan.
Namun, kemarahan tersebut langsung dibantah oleh Sujatmiko, petugas penjaga perlintasan yang saat itu berada di lokasi. Ia menegaskan bahwa dirinya bukan petugas yang bertugas ketika kecelakaan terjadi.
"Bukan saya yang berjaga saat kejadian kemarin," tegas Sujatmiko.
Beruntung, ketegangan tidak berlangsung lama. Sejumlah warga dan rekan-rekan Tomi segera melerai keduanya, terlebih beberapa menit kemudian Kereta Api Logawa dijadwalkan kembali melintas sehingga situasi harus segera dikondisikan.
Setelah situasi mereda, Tomi menyampaikan harapannya agar pihak yang terbukti lalai dalam insiden tersebut dapat dimintai pertanggungjawaban.
"Saya ingin petugas perlintasan yang menyebabkan teman saya meninggal dunia bertanggung jawab," katanya.
Menurut Tomi, dirinya berada tepat di belakang truk boks yang dikemudikan Tabah saat kecelakaan terjadi. Karena itu, ia mengaku menyaksikan secara langsung kronologi insiden tersebut dan meyakini kecelakaan dipicu dugaan keterlambatan penutupan palang pintu perlintasan.
Selain menuntut kejelasan proses hukum, Tomi juga mengenang sosok Tabah sebagai pekerja keras yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga. Setiap hari almarhum mengantarkan paket demi memenuhi kebutuhan istri dan anaknya yang masih berusia kecil.
"Kasihan anaknya masih kecil," ujarnya.
Sementara itu, Kanit Gakkum Satlantas Polres Nganjuk Ipda Wahby Irfan mengatakan penyelidikan terhadap penyebab kecelakaan masih terus dilakukan. Dugaan adanya keterlambatan penutupan palang pintu perlintasan menjadi salah satu aspek yang sedang didalami aparat kepolisian.
Ia menjelaskan, penanganan dugaan unsur kelalaian telah dilimpahkan kepada Unit Reskrim Polsek Bagor. Adapun Satlantas Polres Nganjuk menangani aspek kecelakaan lalu lintas, mulai dari olah tempat kejadian perkara (TKP), evakuasi korban, hingga pengaturan arus kendaraan di sekitar lokasi kejadian.
"Kami masih melakukan pendalaman terkait penyebab kecelakaan, termasuk dugaan keterlambatan penutupan palang pintu perlintasan," ujarnya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kecelakaan yang terjadi di perlintasan sebidang Desa Bagor Kulon, Kecamatan Bagor, Kamis (9/7), melibatkan Kereta Api Logawa, sebuah truk boks ekspedisi J&T, dan satu unit sepeda motor. Akibat peristiwa tersebut, sopir truk boks, Tabah Nur Arriski, meninggal dunia di lokasi. Sementara pengendara sepeda motor yang berada di belakang truk mengalami luka berat dan hingga kini masih menjalani perawatan medis.
Polisi memastikan proses penyelidikan akan dilakukan secara menyeluruh untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan serta menentukan ada atau tidaknya unsur kelalaian yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.(red/lis)
0 Komentar